Close

July 30, 2016

Master di Balik Maestro

Belum banyak orang yang menyadari pentingnya profesi teknisi dan master piano. Padahal kehadiran profesi ini sangat vital, karena—tidak seperti kebanyakan instrumen lain yang bisa disetem sendiri oleh pemainnya—piano harus selalu disetem dan disetel secara rutin oleh teknisi piano berpengalaman.

Sayangnya, di Indonesia hanya ada segelintir teknisi piano yang dapat diandalkan dan paham dengan seluruh seluk beluk instrumen tersebut. Apalagi seorang master piano yang memiliki sertifikat dan berpengalaman dalam mereparasi, merestorasi hingga membuat piano. Franky Lioe adalah salah satunya—kalau tidak bisa dibilang satu-satunya di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Berikut ini adalah hasil wawancara saya dengan Franky Lioe, bertempat di Indonesia’s Boutique Instruments (IBI) Shop di Jalan Benda, Kemang, Jakarta Selatan. Simak uraian laki-laki berusia 68 tahun ini tentang perjalanan panjangnya menjadi seorang master piano; seluk beluk pekerjaannya; teknisi piano yang tidak kompeten; program Piano Technician di Sjuman School of Music; hingga pandangan dan idealismenya tentang Indonesia.

 

Dari Jakarta Sampai ke Hamburg

Minatnya terhadap piano diwariskan oleh ayahnya, yang merupakan orang Indonesia pertama yang membuka toko piano di Jakarta pada tahun 1940. Karena ketertarikannya pada instrumen ini, di tahun 1966 Franky berangkat ke Jerman untuk mempelajari proses pembuatan dan reparasi piano.

Setibanya di sana ia langsung belajar di pabrik piano Uebel & Lechleiter di Heilbronn. Di situ ia berkenalan dengan seluruh proses pembuatan piano: dari pemilihan kayu untuk body dan sound board, perakitan, pemasangan komponen-komponennya, penyetelan mekanik dan penyeteman, hingga finishing piano.

“Waktu itu saya nggak bisa bahasa Jerman, langsung kayak masuk hutan rimba. Jadi kepala masternya menunjuk salah satu master untuk membimbing saya: cara pasang senar, pasang pen, menyerut dan menggergaji kayu juga. Pokoknya semua.

“Ada sekolahnya juga untuk mempelajari teori selama tiga bulan dalam setahun. Terus ada ujiannya. Kita diberi instruksi untuk ujian praktek, misalnya: cara mengelem hammer, atau pasang senar. Itu harus dikerjakan sendiri.”

Dua tahun kemudian, setelah lulus menjadi teknisi piano—atau yang di Jerman disebut sebagai geselle (journeyman/pekerja harian)—Franky mulai menimba pengalaman di sejumlah bengkel dan pabrik piano di kota Stuttgart, kemudian Berlin, dan berakhir di Hamburg.

“Saya belajar di beberapa master, mereparasi piano, merestorasi piano tua hingga jadi seperti baru lagi. Jadi pengalaman saya mempelajari klangkasten (sound board), hammer, cara memasang pen, itu semua harus benar-benar dipraktekkan.”

Pada tahun 1982 Franky pun mulai bekerja di Steinway and Sons.

“Steinway itu pabrik piano termahal dan terbagus di dunia. Saya sangat bersyukur bisa kerja di sana. Bukan karena uangnya, tapi untuk ilmunya: cara mereka kerja, cara mereka setel mekanik, dan lain-lain.”

Tiga tahun kemudian ia membuka bengkel pianonya sendiri “Klavierwerkstatt Lioe” di Hamburg, dan setelah melalui perjalanan panjang selama 20 tahun, akhirnya Franky berhasil mendapatkan sertifikat diploma Master Craftsman for Piano Makers dari Hamburg Chamber of Commerce di tahun 1987.

“Harus 10-20 tahun cari pengalaman untuk mendapatkan (sertifikat) master. Kamu harus sudah bisa merenovasi satu grand piano atau piano. Saya ujiannya merestorasi satu baby grand yang sudah berumur 100 tahun. Harus cat sendiri, mereparasi sendiri, segala macam. Nggak boleh dibantu orang lain.”

Tahun 1999 Franky kembali ke Indonesia untuk melanjutkan usaha Toko Piano Lioe, sambil tetap rutin pergi ke Hamburg setiap tahunnya untuk menjalankan bengkel pianonya. Menurutnya, meski sangat dibutuhkan di seluruh penjuru dunia, belum ada master piano yang berpendidikan dan memiliki sertifikat di Indonesia. Itu yang membuatnya ingin kembali ke negeri ini.

“Di Asia yang saya tahu, cuma ada di China. Warga Jerman keturunan China. Dia pernah masuk Steinway, belajar di sana, terus setelah mendapat sertifikat master, dia ke China. Kalau tidak salah dia masternya (yang menangani piano) Lang Lang.”

Layanan dan servis kelas dunia yang diberikan Franky di banyak tempat di Jakarta, termasuk sekolah-sekolah musik top di Jakarta, membawanya ke perkenalan dengan Aksan Sjuman yang kemudian menjadi pelanggan tetapnya selama bertahun-tahun. Dari obrolan dan diskusi dengan pemilik sekolah Sjuman School of Music ini akhirnya tercetuslah ide untuk bersama-sama membuat instrumen piano lokal. Dan tahun lalu mulailah ia bergabung dengan Aksan Sjuman untuk membuat piano Indonesia pertama: Sjuman Piano.

 

Tantangan Teknisi dan Master Piano

Belajar dari pengalamannya sendiri, menurut Franky, untuk menjadi teknisi piano seseorang harus terjun langsung menangani piano di lapangan.

“Kita tidak bisa belajar hanya dari buku. Praktek lebih utama. Karena tangan kamu, jari-jari kamu, harus bisa merasakan sendiri untuk bisa setel mekaniknya.

“Kalau kamu sudah bisa setem, kamu harus bisa menyelami jiwa pianis itu. Apa yang dia inginkan dari sentuhan tuts dan nadanya. Itu yang namanya intonation atau intonieren(proses penyesuaian bantalan hammer-head untuk menghasilkan key-action yang baik dan rata). Jadi ditusuk hammer-nya. Dan ini ada tekniknya. Kamu tidak bisa mempelajari itu hanya dengan membaca. Harus dibimbing oleh seorang master.”

Lebih jauh lagi, ia menyatakan bahwa piano master pun memiliki spesialisasinya masing-masing:

“Saya belajarnya memang semuanya, kayak sekolah kedokteran, semuanya harus kamu lewatin dulu. Nanti setelah lulus sebagai dokter (umum), baru belajar spesialisasinya. Nah, saya ini spesialisasi restorasi. Jadi piano tua dibikin baru lagi. Banyak piano tua yang perlu diperbaharui lagi. Ada jutaan piano. Nah, itu adalah lowongan (pekerjaan) untuk hidup. Saya beli piano rusak, saya betulin, saya bagusin lagi, saya jual atau saya sewain.”

Bagi Franky, tantangan terbesarnya adalah ketika ia harus mereparasi maupun merestorasi piano-piano yang telah diservis dengan asal-asalan oleh toko piano dan teknisi pianonya yang tidak kompeten. Pekerjaan ini jauh lebih sulit daripada mereparasi piano yang rusak karena pemakaian normal.

“Saya pernah harus mereparasi Steinway grand piano yang model D, yang 2,75 meter. Stem block-nya tambal sulam dengan tripleks! Belinya sudah 600 juta (second), tapi keadaannya rongsok, rusak. Kalau di Jerman, toko itu sudah ditutup, nggak ada ampun lagi. Tutsnya juga musti saya ganti dengan yang baru. Untung saya ada kenalan di Steinway, jadi nggakmasalah, bisa dipesan onderdilnya, sehingga sekarang menjadi baru lagi. Total biayanya sekitar 400 juta. Saya bilang, kembaliin aja. Kalau mau ribut, ribut aja. Saya berani menjadi saksi bahwa ini penipuan.”

 

Tukang Setem “Abal-abal”

Kejadian di atas hanya satu dari sekian banyak kasus yang pernah Franky temui. Tak jarang ia menemukan pelanggan yang “tertipu” karena telah membeli piano second yang rusak dari sejumlah toko piano di Jakarta, termasuk toko piano yang sudah memiliki nama.

“Seharusnya nggak gampang untuk menjadi seorang master piano. Di sini, (begitu) dikasih alat setem, langsung merasa sudah master. Kayak grand piano ini (sambil menunjuk grand piano merek August Forster), oleh salah satu tukang di sini dikasih minyak (WD 40). Harusnya nggak boleh. Ini bukan mesin. Kalau saya bekerja kayak gini di Jerman, ijasah saya bisa tidak diakui lagi, bisa dicabut.

“Orang itu main raba-raba, main asal-asalan. Seharusnya keluarkan yang rusak, pasang onderdil baru. Karena dia nggak punya alatnya, dia main pakai WD aja. Asal jalan. Nah, nanti kalau rusak lagi, duit lagi, kan sama juga bohong.

“Saya juga pernah mereparasi grand piano merek Rippen. Body-nya alumunium, dirusak sama tukang di sini. Tutsnya patah. Dipakai staples, tambal sulam. Mana bisa jalan lagi. Terpaksa saya ganti tutsnya, pesan dari Jerman. Itu kan bukan menguntungkan pelanggan, tapi malah merugikan.”

Menurut Franky, di Indonesia seharusnya ada mekanisme yang melindungi hak konsumen. Di Jerman, jika seorang teknisi piano melakukan kesalahan dan pelanggan merasa ditipu, maka bisa didatangkan beberapa master lain untuk melakukan pengecekan. Kalau dugaan penipuan itu benar, maka oknum tersebut harus ganti rugi, dan nafkahnya bisa hilang.

“Saya ingin buat seperti di Jerman. Ada kammer (chamber/asosiasi pekerja profesional) buat teknisi piano. Dia bisa menilai, supaya master-master di sini yang sudah punya ijasah nggakbisa sembrono juga. Kalau ada pelanggan yang tidak puas, dia bisa lapor ke kammer itu. Kalau salah, kamu bisa mendapat teguran. Kalau sering dapat peringatan, ijasah kamu bisa tidak diakui lagi.

“Tukang setem di Indonesia itu banyak yang nggak ngerti piano. Dikasih alat sama tokonya, alatnya belum tentu bagus. Kedua, memakai alatnya belum tentu benar. Ketiga, kupingnya congekan, karena dia nggak tahu frekuensinya, interval nadanya. Jadi dia sudah congekan, guru pianonya juga (jadi) congekan, lalu anak murid piano yang nggak berdosa, ingin jadi anak pintar, jadi congekan juga.”

 

Program Piano Technician di Sjuman School of Music

Minimnya tenaga ahli di Indonesia inilah yang mendorong Franky—bersama-sama dengan Aksan—untuk membuka kelas program Piano Technician di Sjuman School of Music. Di program ini murid akan belajar tentang seluruh proses pembuatan, reparasi, hingga restorasi piano selama 2 tahun. Metode pendidikannya pun mengacu ke apa yang Franky peroleh di Jerman, yaitu melalui praktek langsung di bengkel piano.

Dengan biaya 5 juta per semester, program ini bisa dikatakan cukup murah:

“Lima juta itu kan sebenarnya sekitar 300 euro. Materialnya saja lebih dari 300 euro. Dan kamu nggak akan belajar kalau nggak praktek. Praktek itu yang mahal. Setelah dua tahun murid-murid akan bisa berdiri sendiri.”

Mengenai masa depan program ini, Franky menambahkan:

“Saya kenal banyak pabrik-pabrik di Jerman untuk diajak kerja sama. Jadi murid-murid nanti setelah lulus bisa dikirim ke sana untuk volunteer (internship/magang) satu-dua bulan. Ini masih dalam rencana. Saya bisa bicara sama (orang yang bekerja di pabrik piano) (August) Forster. Ini pabriknya lebih kecil dari Steinway, dan pekerjaan tangannya juga banyak.

“Saya juga bisa hubungi persatuan piano kammer (asosiasi) Jerman, dan tanya pabrik piano mana yang mau terima mereka. Saya harap pemerintah Indonesia ikut menunjang proyek ini. Kalau pemerintah Indonesia akui sekolah ini, otomatis pemerintah Jerman dan pabrik-pabrik piano di sana juga mau diajak kerja sama.”

Setelah lulus, ada beberapa pilihan yang bisa diambil oleh murid-murid dari program Piano Technician ini. Jika murid ini memiliki prestasi yang baik, tentu saja ia bisa langsung bekerja di Sjuman Piano, tapi kalau dia mau buka usaha sendiri juga bisa.

“Misalnya kamu lulus dan mau buka bengkel sendiri, saya tunjang, saya bantu siapkan alat-alatnya, sehingga kamu bisa kerja. Alat-alat itu hanya bisa dibeli lewat saya, karena saya kenal dengan orang yang bekerja di pabrik (komponen piano) Renner di Stuttgart, Jerman. Renner itu pabrik mekanik piano yang terbaik di dunia. Buat Indonesia, saya yang menguasai (jalur distribusinya).”

Murid-murid dari program ini juga tidak perlu khawatir dengan masa depan pekerjaannya.

“Calon-calon student yang mau belajar itu masa depannya sudah terjamin. Banyak piano yang rusak. Bahkan piano yang baru diproduksi pasti ada kekurangannya. Nantinya dia akan menjadi teknisi piano, punya pekerjaan sendiri. Dia bisa pergi ke pelanggan dan menangani sendiri.

“Orang itu kalau cara menangani, cara menjelaskan sama pelanggannya baik, dia pasti disukai, terus dikasih (referensi) ke teman-temannya. Karena nama saya bagus, jadi kalau orang bilang: ‘Saya lulusan Franky,’ mereka akan percaya.”

Lebih jauh lagi, ia berharap program ini bisa mendapat peminat dari luar Indonesia:

“Seluruh dunia itu butuh teknisi dan master piano yang baik. Makanya kalau sekolah ini bisa berjalan dengan bagus, kita bisa terima murid-murid dari Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam. Kita bisa jadi sekolah buat Asia nantinya. Terus bisa kerja sama dengan sekolah tempat saya belajar dulu.”

 

Karakter Piano

Dengan pengalaman dan jam terbang puluhan tahun menangani instrumen piano, Franky bisa menjelaskan dengan mudah jenis dan karakter berbagai merek piano dunia. Sebagai master piano yang biasa menangani piano Eropa, berikut ini adalah komentarnya tentang piano Jepang dan Korea yang banyak digunakan di Indonesia:

“Kalau piano Jepang (yang diproduksi) untuk Eropa dan Amerika, mereka bikinnya bagus sekali, karena orang Eropa dan Amerika itu sangat detil dan teliti. Kalau di sini, EGP (‘emang gue pikirin‘). Jadi bagus atau nggak bagus pokoknya asal jual. Kamu nggak bisa complain.

“Kalau produksi piano Jepang untuk pasar di Jepang itu kelas satu, untuk Eropa kelas 1B, untuk Amerika kelas 1C, sementara kalau untuk pasar Indonesia kelas 7. Suara piano Jepang dan Korea itu cempreng. Korea lebih cempreng sekali.”
Franky mengatakan bahwa di Eropa ada asosiasi pertukangan yang selalu diminta untuk memeriksa kualitas produk-produk dari luar negeri yang akan masuk ke sana. Jadi produk-produk Jepang seperti piano atau mobil tidak bisa sembarangan dijual di Eropa jika tidak memenuhi syarat kualitas yang ditetapkan.

Perbedaan kualitas maupun harga piano Jepang dan Eropa juga ditentukan oleh mekanisme dan proses kerja di pabriknya sendiri.

“Piano Steinway itu boleh dikatakan kira-kira 80% handmade. Kalau piano buatan Jepang nggak. Makin kecil pabriknya, makin banyak pakai tangan. Kalau Yamaha kan dia produksi setahun ada 100 ribu (unit), makanya perlu mesin. Nah, kalau Steinway kurang lebih hanya 800 sampai 1000 (unit) setahun. Steinway itu teliti sekali, makanya jadinya mahal.”

Lebih jauh lagi Franky menjelaskan bahwa, bahkan sesama merek piano Eropa memiliki karakternya masing-masing:

“Piano klasik itu kan suaranya empuk. (Karya) Chopin itu cocoknya (dimainkan) pakai piano Blüthner. Kalau memainkan (karya) Chopin pakai Steinway itu nggak cocok. Jadi kalau mau buat konser, mereka harus tahu pianis ini akan memainkan karya siapa. Beethoven, Mozart, Bach, Strauss, semuanya karakternya lain-lain. Seperti Wagner, dia itu kejam, streng. Jadi harus Steinway. Kalau yang lain, yang empuk-empuk, bisa dikasih Bechstein atau Bösendorfer. Nggak mungkin Bösendorfer bisa buat Wagner. Jadi nggak enak rasanya kalau didengar. Kalau orang benar-benar pecinta klasik, dia berharap yang dimainkan itu benar-benar keluar karakternya.”

Kemudian, mengenai perawatan, menurutnya piano itu sebaiknya disetem dan diservis setiap enam bulan sekali, atau paling lama setahun sekali.

“Seperti manusia bisa sakit, begitu juga instrumen. Walaupun sering disetem dan dirawat, jika piano itu sering dimainkan pasti ada reaksinya. Nggak mungkin alat itu nggak pernah rusak seumur hidup.

“Piano dari jadi sampai berumur 40 tahun, itu harus ganti pen. Karena selama 40 tahun jika rutin disetem, otomatis pennya akan kendor. Nah, supaya lubang pennya tetap bagus, harus dikasih pen yang lain. Ada ukuran-ukurannya. Itu rumit sekali sebenarnya. Nggak bisa dianggap sepele, atau sedikit-sedikit menggunakan WD-40, main semprot-semprot saja.”

 

Ikut Memajukan Bangsa

Dalam perjalanan hidupnya “makan asam garam” sebagai teknisi dan master piano, apapun tantangan yang ditemui, pada akhirnya Franky selalu menemukan kebahagiaan tersendiri pada saat melihat pelanggan yang puas dengan hasil kerjanya.

“Saya senang bisa kenalan dengan musisi-musisi, dengan orang yang suka musik. Lalu setelah (pianonya) disetem, pelanggan saya sangat gembira. Pernah ada satu guru piano, saya betulin grand piano-nya. Setelah dia coba, dia bilang: ‘Saya belum pernah main segini enaknya.’ Senang, kan? Jadi nggak percuma kamu belajar.”

Lalu Franky menunjukkan salah satu SMS dari pelanggannya yang menyatakan puas dengan layanannya.

“Kayak SMS ini, senang dan puas saya. Jadi memberikan anak itu kesempatan untuk main dan menikmati. Walaupun permainannya tidak perfect sekali, tapi jadi lebih bagus. Anak itu senang sekali. Karena saya nyetemin, dan setel mekaniknya lagi, pianonya jadi enak.

“Saya kembali lagi ke Indonesia karena ingin berbakti sama Indonesia, untuk generasi anak-anak kita. Anak-anak yang bakal memajukan Indonesia. Kalau bukan anak-anak itu, siapa lagi? Generasi yang tua-tua itu sudah rusak pikiran dan hatinya. Ingatnya korupsi. Kita, generasi yang baru-baru, yang muda-muda, harus tunjukin jalan yang benar. Itu sebabnya saya balik lagi ke Indonesia.”

Di akhir wawancara, Franky berujar, “Piano itu bukan alat sembarangan. Dia bisa memberikan kebahagiaan untuk orang. Kalau semuanya oke, mainnya enak, dia puas. Tapi kalau alat ini nggak bagus, jadi dia mau main, males, jadi nggak ada minat lagi.

“Jadi menangani alat musik itu benar-benar pekerjaan seniman. Bukan karena ada obeng dan perkakas lainnya, jadi dianggap pekerjaan tukang. Kita ini bukan tukang murahan. Kita (adalah) seniman.”

 

Wawancara dengan Master dan Teknisi Piano Franky Lioe

Teks dan foto oleh Iwan Paul